Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2025

Diamnya Mahasiswa: Apatisme atau Ketakutan di Tengah Kontroversi UU TNI?

Gambar
  Mahasiswa, sebagai generasi penerus dan agen perubahan, seharusnya menjadi suara yang paling lantang dalam menghadapi setiap kebijakan yang berpotensi merugikan masyarakat. Namun, sikap diam mereka ketika UU TNI disahkan menunjukkan sebuah paradoks yang mengganggu. Di satu sisi, mahasiswa dikenal sebagai penggerak reformasi, tetapi di sisi lain, mereka tampak apatis terhadap isu-isu krusial yang menyangkut masa depan bangsa. Kebangkitan mahasiswa di masa lalu, yang seringkali menjadi motor penggerak perubahan, kini seolah tereduksi menjadi sekadar wacana di ruang kelas atau media sosial. Ketika UU TNI, yang mengandung potensi untuk militarisasi sipil, disahkan tanpa protes berarti, kita harus bertanya: Apakah mereka sudah kehilangan semangat juang? Ataukah ada ketakutan akan represifitas yang membuat mereka memilih untuk diam? Diamnya mahasiswa dalam konteks ini bukan hanya mencerminkan apatisme, tetapi juga kegagalan untuk memahami tanggung jawab sosial mereka. Dalam era informa...

Baju Lebaran dan Hukum Kebiasaan Masyarakat di Kabupaten Kerinci, Jambi

Gambar
Di Kabupaten Kerinci, Jambi, tradisi merayakan Hari Raya Idul Fitri selalu identik dengan ritual membeli baju baru. Kebiasaan ini tidak hanya mencerminkan aspek budaya, tetapi juga menciptakan tekanan sosial yang secara tidak langsung mengharuskan masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Dalam konteks ini, penting untuk memahami bagaimana hukum kebiasaan berperan dalam membentuk perilaku masyarakat, terutama terkait dengan membeli baju lebaran. I. Sejarah dan Tradisi Baju Lebaran Tradisi membeli baju baru menjelang Idul Fitri telah berlangsung selama bertahun-tahun. Di Kerinci, sebagai daerah dengan nuansa khas Melayu, kenangan akan tradisi ini seringkali melekat pada cerita-cerita turun-temurun. Pembelian baju baru dianggap sebagai simbol kesucian dan kesiapan menyambut hari kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh. Dalam pandangan masyarakat Kerinci, memiliki baju baru dianggap sebagai suatu kehormatan dan pembuktian akan kemampuan ekonomi, meski...

"Debat Ego: Ketika Kebenaran Menjadi Sirkus dan Keadilan Hanya Retorika"

Gambar
(tulisan ini adalah refleksi untuk kita semua, mungkin akan terdapat banyak kekeliruan, kesalahan dan kekurangan yang  adalah murni kesalahan saya yang belajar menulis, tidak perlu dimaklumi, cukup baca sampai selesai agar tidak gagal paham, dan ini juga lahir dari imajinasi yang berbisik pada nurani sehingga jari mengetik dan menerbitkan untuk dapat di sajikan) Ah, perdebatan—seni kuno yang tampaknya telah bertransformasi menjadi ajang unjuk kebolehan ego. Kita saksikan dengan penuh kekaguman dua pihak yang sama-sama ngotot mempertahankan pandangannya seolah-olah itu adalah kebenaran mutlak. Satu pihak berargumen dengan semangat seolah-olah dunia akan berakhir jika pandangannya tidak diterima, sementara pihak lainnya bersikeras bahwa pendapatnya adalah satu-satunya jalan menuju pencerahan.  Sungguh menghibur! Sepertinya kita semua terjebak dalam sirkus di mana para pemain acrobatic ego kita berusaha menunjukkan betapa hebatnya mereka dalam mempertahankan posisi masing-masing....