Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2025

Pemimpin Serba Bisa, Asal Jangan Suruh Baca

Gambar
Di zaman ketika semua orang ingin jadi pemimpin, buku justru makin kehilangan tempat. Tak heran jika hari ini kita dikelilingi banyak pemimpin—dari pemimpin negara, organisasi, lembaga, perusahaan, sampai grup WhatsApp keluarga—yang berbicara lantang, tampil percaya diri, tapi ketika ditanya “apa yang terakhir Anda baca?”, jawabnya tidak jauh dari caption motivasi dan quote dari akun Instagram bertema sukses. Mereka menyusun strategi organisasi seperti menyusun feed sosial media: penuh warna, cepat, dan harus menarik mata. Visi misi diganti jargon, nilai-nilai ditumpuk dalam slogan, dan rencana kerja disingkat dalam bentuk presentasi animasi. Hebat, bukan? Bahkan kadang kita dibuat kagum: betapa seseorang bisa memimpin tanpa perlu tahu apa-apa. Namun, seperti kata Pramoedya Ananta Toer dalam “Bumi Manusia”, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis dan membaca, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah." Sayangnya, banyak pemimpin masa kini tidak te...

Terimakasih

Gambar
Tak terasa, sudah 10 saja pandangan kami yang telah di publish untuk dapat sama sama dibaca dan dikoreksi, suatu kebanggaan sejauh ini, namun kami tidak akan terlena dalam rasa senang itu, kami akan mencoba terus hadir, terus ber-opini, mencurahkan pandangan dan keresahan yang kami rasa perlu untuk kami tulis dan publish. Bukan sebagai bentuk menggurui, namun sebagai bentuk kepedulian kami terhadap isu-isu ditengah masyarakat, melalui persepsi dan perspektif yang mungkin jarang disorot sebagian orang. Terimakasih Pembaca setia Opini kami, 1 pembaca adalah sejuta semangat untuk kami menulis, harapan kami, pembaca opini republikaofjenakawan tidak hanya stagnan sebagai pembaca saja, namun lebih dari kami yakin dan percaya, teman teman dapat memahami, mengkritisi, memberi saran dan bahkan berkontribusi dalam tulisan tulisan kami nantinya.  Menulis menjadi kegiatan yang menyenangkan, ketika tulisan kita dapat berdampak pada pikiran pikiran orang lain, menulis juga adalah sebagai bentuk ...

Sentimentalitas: Bumbu Manis atau Racun Tersembunyi dalam Hubungan Sosial?

Gambar
  Di era yang seharusnya serba rasional ini, kita masih sering melihat sentimentalitas menjadi bintang utama dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam organisasi, misalnya, kita sering menyaksikan para pemimpin yang tak segan-segan meneteskan air mata saat berbicara tentang pemotongan anggaran. Seolah-olah, air mata itu bisa mengubah angka-angka di laporan keuangan yang hitam di atas putih. Tentu saja, kita semua tahu bahwa rasa emosional tidak bisa menggantikan perencanaan yang matang. Di lingkungan pertemanan, situasinya juga tidak jauh berbeda. Banyak orang yang mengklaim bahwa "teman adalah keluarga yang kita pilih." Namun, ketika salah satu teman kita meraih sukses, reaksi yang umumnya muncul adalah selamat yang disertai senyuman, padahal di dalam hati, rasa cemburu bisa jadi bersemayam. Kita lebih suka berpura-pura bahagia daripada jujur tentang perasaan kita. Ah, betapa manisnya kepura-puraan itu! Lalu, mari kita beralih ke dunia politik, di mana sentimentalitas menjadi se...

Kepercayaan Masyarakat Kerinci dalam Praktik Animisme dan Dinamisme

Gambar
Di tengah pesatnya perkembangan zaman, kepercayaan masyarakat terhadap praktik animisme dan dinamisme masih tetap kental di Kerinci. Hal ini tampak jelas ketika proses pencarian orang hilang di hutan, di mana sejumlah dukun terlihat melakukan ritual untuk memohon pertolongan kepada roh-roh nenek moyang. Meskipun kita tidak dapat memastikan efektivitas ritual tersebut, satu hal yang tak bisa dipungkiri adalah kekuatan spiritual yang mengikat masyarakat dalam situasi sulit. Ritual ini mencerminkan betapa dalamnya hubungan masyarakat Kerinci dengan alam dan leluhur mereka. Animisme dan dinamisme bukan sekadar praktik keagamaan; mereka adalah bagian integral dari identitas budaya yang membentuk cara pandang dan interaksi sosial. Dalam konteks pencarian orang hilang, kepercayaan ini memberikan harapan dan ketenangan batin bagi keluarga yang ditinggalkan. Namun, di balik kisah duka ini, tersimpan semangat gotong royong yang masih relevan di kalangan masyarakat Kerinci. Ketika satu desa dilan...