Postingan

Pemadaman Listrik di Kerinci, Taktik Marketing atau Kebetulan Janggal?

Gambar
Pemadaman listrik di Kerinci dan Sungai Penuh akibat robohnya tower menimbulkan banyak tanda tanya. Kejadian ini terasa janggal, terutama karena tidak ada cuaca ekstrem yang bisa menjelaskan keruntuhan tersebut. Banyak yang mulai berspekulasi: apakah ini memang kebetulan, atau justru sebuah taktik marketing untuk PLTA Kerinci Merangin Hidro yang akan beroperasi akhir 2025? Jika dilihat dari sudut pandang provokatif, bisa jadi pemadaman ini adalah cara untuk memaksa masyarakat menyadari betapa rentannya pasokan listrik yang ada. Dengan situasi yang mengganggu ini, masyarakat mungkin akan lebih mendukung proyek PLTA yang dijanjikan sebagai solusi masa depan. Apakah ini strategi licik untuk menciptakan ketergantungan pada proyek yang belum terbukti? Namun, memanfaatkan kesulitan masyarakat demi kepentingan bisnis adalah tindakan yang sangat tidak etis. Pemadaman listrik yang tidak terduga dan berkepanjangan dapat merusak kehidupan sehari-hari dan ekonomi lokal. Pihak-pihak yang terlibat h...

Pemimpin Serba Bisa, Asal Jangan Suruh Baca

Gambar
Di zaman ketika semua orang ingin jadi pemimpin, buku justru makin kehilangan tempat. Tak heran jika hari ini kita dikelilingi banyak pemimpin—dari pemimpin negara, organisasi, lembaga, perusahaan, sampai grup WhatsApp keluarga—yang berbicara lantang, tampil percaya diri, tapi ketika ditanya “apa yang terakhir Anda baca?”, jawabnya tidak jauh dari caption motivasi dan quote dari akun Instagram bertema sukses. Mereka menyusun strategi organisasi seperti menyusun feed sosial media: penuh warna, cepat, dan harus menarik mata. Visi misi diganti jargon, nilai-nilai ditumpuk dalam slogan, dan rencana kerja disingkat dalam bentuk presentasi animasi. Hebat, bukan? Bahkan kadang kita dibuat kagum: betapa seseorang bisa memimpin tanpa perlu tahu apa-apa. Namun, seperti kata Pramoedya Ananta Toer dalam “Bumi Manusia”, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis dan membaca, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah." Sayangnya, banyak pemimpin masa kini tidak te...

Terimakasih

Gambar
Tak terasa, sudah 10 saja pandangan kami yang telah di publish untuk dapat sama sama dibaca dan dikoreksi, suatu kebanggaan sejauh ini, namun kami tidak akan terlena dalam rasa senang itu, kami akan mencoba terus hadir, terus ber-opini, mencurahkan pandangan dan keresahan yang kami rasa perlu untuk kami tulis dan publish. Bukan sebagai bentuk menggurui, namun sebagai bentuk kepedulian kami terhadap isu-isu ditengah masyarakat, melalui persepsi dan perspektif yang mungkin jarang disorot sebagian orang. Terimakasih Pembaca setia Opini kami, 1 pembaca adalah sejuta semangat untuk kami menulis, harapan kami, pembaca opini republikaofjenakawan tidak hanya stagnan sebagai pembaca saja, namun lebih dari kami yakin dan percaya, teman teman dapat memahami, mengkritisi, memberi saran dan bahkan berkontribusi dalam tulisan tulisan kami nantinya.  Menulis menjadi kegiatan yang menyenangkan, ketika tulisan kita dapat berdampak pada pikiran pikiran orang lain, menulis juga adalah sebagai bentuk ...

Sentimentalitas: Bumbu Manis atau Racun Tersembunyi dalam Hubungan Sosial?

Gambar
  Di era yang seharusnya serba rasional ini, kita masih sering melihat sentimentalitas menjadi bintang utama dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam organisasi, misalnya, kita sering menyaksikan para pemimpin yang tak segan-segan meneteskan air mata saat berbicara tentang pemotongan anggaran. Seolah-olah, air mata itu bisa mengubah angka-angka di laporan keuangan yang hitam di atas putih. Tentu saja, kita semua tahu bahwa rasa emosional tidak bisa menggantikan perencanaan yang matang. Di lingkungan pertemanan, situasinya juga tidak jauh berbeda. Banyak orang yang mengklaim bahwa "teman adalah keluarga yang kita pilih." Namun, ketika salah satu teman kita meraih sukses, reaksi yang umumnya muncul adalah selamat yang disertai senyuman, padahal di dalam hati, rasa cemburu bisa jadi bersemayam. Kita lebih suka berpura-pura bahagia daripada jujur tentang perasaan kita. Ah, betapa manisnya kepura-puraan itu! Lalu, mari kita beralih ke dunia politik, di mana sentimentalitas menjadi se...

Kepercayaan Masyarakat Kerinci dalam Praktik Animisme dan Dinamisme

Gambar
Di tengah pesatnya perkembangan zaman, kepercayaan masyarakat terhadap praktik animisme dan dinamisme masih tetap kental di Kerinci. Hal ini tampak jelas ketika proses pencarian orang hilang di hutan, di mana sejumlah dukun terlihat melakukan ritual untuk memohon pertolongan kepada roh-roh nenek moyang. Meskipun kita tidak dapat memastikan efektivitas ritual tersebut, satu hal yang tak bisa dipungkiri adalah kekuatan spiritual yang mengikat masyarakat dalam situasi sulit. Ritual ini mencerminkan betapa dalamnya hubungan masyarakat Kerinci dengan alam dan leluhur mereka. Animisme dan dinamisme bukan sekadar praktik keagamaan; mereka adalah bagian integral dari identitas budaya yang membentuk cara pandang dan interaksi sosial. Dalam konteks pencarian orang hilang, kepercayaan ini memberikan harapan dan ketenangan batin bagi keluarga yang ditinggalkan. Namun, di balik kisah duka ini, tersimpan semangat gotong royong yang masih relevan di kalangan masyarakat Kerinci. Ketika satu desa dilan...

Diamnya Mahasiswa: Apatisme atau Ketakutan di Tengah Kontroversi UU TNI?

Gambar
  Mahasiswa, sebagai generasi penerus dan agen perubahan, seharusnya menjadi suara yang paling lantang dalam menghadapi setiap kebijakan yang berpotensi merugikan masyarakat. Namun, sikap diam mereka ketika UU TNI disahkan menunjukkan sebuah paradoks yang mengganggu. Di satu sisi, mahasiswa dikenal sebagai penggerak reformasi, tetapi di sisi lain, mereka tampak apatis terhadap isu-isu krusial yang menyangkut masa depan bangsa. Kebangkitan mahasiswa di masa lalu, yang seringkali menjadi motor penggerak perubahan, kini seolah tereduksi menjadi sekadar wacana di ruang kelas atau media sosial. Ketika UU TNI, yang mengandung potensi untuk militarisasi sipil, disahkan tanpa protes berarti, kita harus bertanya: Apakah mereka sudah kehilangan semangat juang? Ataukah ada ketakutan akan represifitas yang membuat mereka memilih untuk diam? Diamnya mahasiswa dalam konteks ini bukan hanya mencerminkan apatisme, tetapi juga kegagalan untuk memahami tanggung jawab sosial mereka. Dalam era informa...

Baju Lebaran dan Hukum Kebiasaan Masyarakat di Kabupaten Kerinci, Jambi

Gambar
Di Kabupaten Kerinci, Jambi, tradisi merayakan Hari Raya Idul Fitri selalu identik dengan ritual membeli baju baru. Kebiasaan ini tidak hanya mencerminkan aspek budaya, tetapi juga menciptakan tekanan sosial yang secara tidak langsung mengharuskan masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Dalam konteks ini, penting untuk memahami bagaimana hukum kebiasaan berperan dalam membentuk perilaku masyarakat, terutama terkait dengan membeli baju lebaran. I. Sejarah dan Tradisi Baju Lebaran Tradisi membeli baju baru menjelang Idul Fitri telah berlangsung selama bertahun-tahun. Di Kerinci, sebagai daerah dengan nuansa khas Melayu, kenangan akan tradisi ini seringkali melekat pada cerita-cerita turun-temurun. Pembelian baju baru dianggap sebagai simbol kesucian dan kesiapan menyambut hari kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh. Dalam pandangan masyarakat Kerinci, memiliki baju baru dianggap sebagai suatu kehormatan dan pembuktian akan kemampuan ekonomi, meski...

"Debat Ego: Ketika Kebenaran Menjadi Sirkus dan Keadilan Hanya Retorika"

Gambar
(tulisan ini adalah refleksi untuk kita semua, mungkin akan terdapat banyak kekeliruan, kesalahan dan kekurangan yang  adalah murni kesalahan saya yang belajar menulis, tidak perlu dimaklumi, cukup baca sampai selesai agar tidak gagal paham, dan ini juga lahir dari imajinasi yang berbisik pada nurani sehingga jari mengetik dan menerbitkan untuk dapat di sajikan) Ah, perdebatan—seni kuno yang tampaknya telah bertransformasi menjadi ajang unjuk kebolehan ego. Kita saksikan dengan penuh kekaguman dua pihak yang sama-sama ngotot mempertahankan pandangannya seolah-olah itu adalah kebenaran mutlak. Satu pihak berargumen dengan semangat seolah-olah dunia akan berakhir jika pandangannya tidak diterima, sementara pihak lainnya bersikeras bahwa pendapatnya adalah satu-satunya jalan menuju pencerahan.  Sungguh menghibur! Sepertinya kita semua terjebak dalam sirkus di mana para pemain acrobatic ego kita berusaha menunjukkan betapa hebatnya mereka dalam mempertahankan posisi masing-masing....

Elitisme Informasi: Ancaman Media Berbayar bagi Demokrasi

Gambar
  Elitisme Informasi: Ancaman Media Berbayar bagi Demokrasi Media online yang hanya melayani pelanggan yang membayar adalah bentuk elitisme informasi yang berbahaya. Dalam masyarakat yang seharusnya mengedepankan kesetaraan, model bisnis ini menciptakan jurang yang lebih dalam antara mereka yang mampu dan tidak mampu membayar. Ini bukan sekadar masalah akses, tetapi juga tentang siapa yang memiliki suara dalam pembentukan opini publik. Dengan membatasi akses hanya kepada yang mampu membayar, media berkontribusi pada pembentukan gelembung informasi. Hanya perspektif tertentu yang diangkat, sementara suara-suara yang berbeda terpinggirkan. Apakah kita benar-benar ingin hidup dalam dunia di mana hanya pandangan yang sesuai dengan dompet kita yang didengar? Ini adalah langkah mundur bagi demokrasi dan keadilan sosial. Lebih jauh lagi, model ini dapat memicu pengabaian terhadap tanggung jawab moral media untuk mendidik masyarakat. Dalam era di mana berita palsu merajalela, informasi yan...

Pahlawan Sehari !!

Gambar
                                                                                                                    Randi Vitora Fenomena mahasiswa, tokoh, dan aktivis yang tiba-tiba terlihat aktif menyuarakan pendapat mereka saat sebuah isu viral sedang ramai diperbincangkan memang menjadi perhatian banyak orang. Opini saya mengenai hal ini mencakup beberapa poin penting. Pertama, ada aspek keautentikan yang dapat dipertanyakan. Ketika seseorang, baik itu mahasiswa atau tokoh publik, hanya muncul dan berbagi suara saat sebuah isu viral tanpa sebelumnya menunjukkan konsistensi dalam menyuarakan hal yang sama,...

Transparansi dan Keadilan pada Program KIP Kuliah

Gambar
Dalam dunia pendidikan tinggi di Indonesia, keluhan tentang pemotongan dana Kartu Indonesia Pintar (KIP) kuliah semakin mengemuka. Beberapa kampus melakukan pemotongan dana KIP yang tidak jelas dan tidak transparan, sehingga banyak mahasiswa yang hanya menerima kurang dari 50% dari hak mereka. Ini adalah sebuah pelanggaran yang tidak dapat ditoleransi dan mencerminkan ketidakadilan yang harus segera diatasi. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2021, yang mengatur tentang KIP Kuliah, disebutkan bahwa dana KIP Kuliah adalah hak mahasiswa yang harus diberikan secara utuh dan tidak boleh dipotong untuk tujuan apapun. Kementerian Agama (Kemenag) juga menegaskan dalam berbagai pernyataan resmi bahwa pemotongan dana KIP kuliah bertentangan dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas yang seharusnya dijunjung tinggi dalam pengelolaan program bantuan pendidikan. Namun, banyak kampus yang tampaknya mengabaikan regulasi ini, dengan dalih adanya ...

Pemerintah dan Media Sosial : Siapa Yang Menentukan Agenda ?

Gambar
                         Randi Vitora Seakan ada yang di luar kewajaran, namun itulah yang terjadi, fenomena ini seakan menjadi trend baru di kalangan masyarakat umum dan pemerintah, mulai dari pemerintahan paling rendah sampai ke paling tinggi, toh fenomena ini tumbuh di masyarakat tanpa kita sadari dampaknya. Fenomenanya adalah Pemerintah yang menunggu suatu hal viral sebelum melakukan aksi seringkali menunjukkan kondisi yang kurang proaktif dalam mengambil keputusan dan tindakan. Dalam era digital saat ini, informasi dan isu dapat cepat viral di media sosial, dan publik sering kali bereaksi lebih cepat daripada pemerintah. Hal ini bisa menimbulkan masalah serius bagi masyarakat. Satu sisi positif dari viralitas adalah bahwa isu-isu penting dapat mendapatkan perhatian yang lebih besar, dan hal ini dapat memaksa pemerintah untuk bertindak. Namun, jika pemerintah hanya menunggu hingga suatu isu menjadi viral sebelum melaku...

Hoaks dan Disinformasi : Tantangan Pers Indonesia

Gambar
  RANDI VITORA           Dalam era kemajuan teknologi yang begitu pesat, menjadi tantangan tersendiri bagi pers dalam mengelola informasi dan berita, kerentanan terhadap hoaks seakan sulit dihindari, tantangan ini menjadi fokus serius pers dalam merawat demokrasi Indonesia, pers dituntut untuk mampu menyajikan informasi yang aktual, terpercaya dan bertanggung jawab, tak sedikit pula ( oknum) pers yang menyajikan sebaliknya. Tentu menimbulkan pertanyaan, untuk masa yang akan datang, apakah pers adalah harapan dan elemen penyokong demokrasi Indonesia atau ancaman bagi demokrasi di masa yang akan datang, tentu untuk menjawab itu semua sangatlah kompleks, sebab banyak faktor yang harus di uji agar mendapatkan jawaban. Di era digital saat ini, dengan semakin mudahnya akses informasi melalui internet, kita menemukan dan menyadari bahwa demokrasi tidak hanya berkembang di ruang publik tapi juga tumbuh di dunia maya. Lalu kembali lagi bahwa ...