Diamnya Mahasiswa: Apatisme atau Ketakutan di Tengah Kontroversi UU TNI?

 



Mahasiswa, sebagai generasi penerus dan agen perubahan, seharusnya menjadi suara yang paling lantang dalam menghadapi setiap kebijakan yang berpotensi merugikan masyarakat. Namun, sikap diam mereka ketika UU TNI disahkan menunjukkan sebuah paradoks yang mengganggu. Di satu sisi, mahasiswa dikenal sebagai penggerak reformasi, tetapi di sisi lain, mereka tampak apatis terhadap isu-isu krusial yang menyangkut masa depan bangsa.


Kebangkitan mahasiswa di masa lalu, yang seringkali menjadi motor penggerak perubahan, kini seolah tereduksi menjadi sekadar wacana di ruang kelas atau media sosial. Ketika UU TNI, yang mengandung potensi untuk militarisasi sipil, disahkan tanpa protes berarti, kita harus bertanya: Apakah mereka sudah kehilangan semangat juang? Ataukah ada ketakutan akan represifitas yang membuat mereka memilih untuk diam?


Diamnya mahasiswa dalam konteks ini bukan hanya mencerminkan apatisme, tetapi juga kegagalan untuk memahami tanggung jawab sosial mereka. Dalam era informasi yang begitu mudah diakses, seharusnya mereka bisa lebih kritis dan peka terhadap isu-isu yang berpengaruh besar. Keberanian untuk bersuara dan menuntut perubahan adalah hal yang sangat diperlukan, bukan hanya untuk kepentingan mereka sendiri, tetapi juga untuk generasi mendatang.


Dengan kondisi ini, kita harus mendorong mahasiswa untuk bangkit, berpikir kritis, dan menunjukkan bahwa mereka peduli akan masa depan bangsa. Keberanian untuk berjuang demi keadilan dan demokrasi harus dipupuk kembali, agar suara mereka tidak hanya menjadi gema yang hilang di tengah kebisingan politik. Jika tidak, masa depan bangsa ini akan dipertaruhkan pada kepasifan generasi yang seharusnya menjadi harapan.

Komentar

populer minggu ini

Transparansi dan Keadilan pada Program KIP Kuliah

Elitisme Informasi: Ancaman Media Berbayar bagi Demokrasi