Pemimpin Serba Bisa, Asal Jangan Suruh Baca



Di zaman ketika semua orang ingin jadi pemimpin, buku justru makin kehilangan tempat. Tak heran jika hari ini kita dikelilingi banyak pemimpin—dari pemimpin negara, organisasi, lembaga, perusahaan, sampai grup WhatsApp keluarga—yang berbicara lantang, tampil percaya diri, tapi ketika ditanya “apa yang terakhir Anda baca?”, jawabnya tidak jauh dari caption motivasi dan quote dari akun Instagram bertema sukses.


Mereka menyusun strategi organisasi seperti menyusun feed sosial media: penuh warna, cepat, dan harus menarik mata. Visi misi diganti jargon, nilai-nilai ditumpuk dalam slogan, dan rencana kerja disingkat dalam bentuk presentasi animasi. Hebat, bukan? Bahkan kadang kita dibuat kagum: betapa seseorang bisa memimpin tanpa perlu tahu apa-apa.


Namun, seperti kata Pramoedya Ananta Toer dalam “Bumi Manusia”,

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis dan membaca, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah."


Sayangnya, banyak pemimpin masa kini tidak terlalu peduli apakah akan hilang dari sejarah. Mereka lebih peduli akan muncul di mana malam ini—apakah di layar televisi, unggahan media, atau slide evaluasi bulanan yang penuh angka-angka indah tapi nihil makna.


Padahal, pemimpin yang tidak membaca adalah pemimpin yang mudah terpeleset oleh sejarah dan gagal memahami konteks. Ia mungkin bisa memotivasi tim dengan semangat tinggi, tapi bingung ketika konflik internal muncul. Ia bisa berbicara tentang inovasi dan perubahan, tapi takut membaca laporan evaluasi mendalam atau tulisan reflektif karyawan. Ia menyukai grafik pertumbuhan, tapi alergi pada buku-buku yang mengajak berpikir kritis.


Dalam novel “Bekisar Merah”, Ahmad Tohari menulis:

"Banyak orang memimpin, tetapi tak semuanya mengerti arah."

Dan betapa benarnya kalimat ini dalam konteks organisasi modern. Di ruang-ruang kerja hari ini, kita bisa menemukan pemimpin yang sangat piawai membuat roadmap, tetapi tak paham fondasi dari jalan yang akan dilalui. Ia tahu caranya tampil di depan forum, tetapi tidak tahu mengapa timnya kehilangan semangat. Ia tahu memimpin rapat, tapi tak tahu mendengarkan.


Pemimpin yang membaca, di sisi lain, mengenal dunia dari berbagai sudut. Ia tidak hanya tahu cara memimpin proyek, tapi juga memahami dinamika manusia. Ia tahu bahwa perubahan bukan sekadar struktur, tetapi budaya. Dan budaya—seperti yang ditulis oleh Budi Darma dalam “Orang-Orang Bloomington”—seringkali dibentuk oleh hal-hal kecil yang tidak terlihat, bukan oleh gebrakan besar yang penuh tepuk tangan.


Ironisnya, dunia organisasi sekarang sering kali lebih menghargai “leadership style” daripada substance. Yang penting percaya diri, komunikatif, dan enerjik—soal kedalaman berpikir nanti saja. Maka lahirlah pemimpin yang lebih suka berbicara tentang perubahan, daripada membaca buku tentang bagaimana perubahan sebenarnya terjadi.


Padahal, dalam konteks organisasi yang kompleks, membaca bisa menjadi jembatan untuk memahami realitas yang tidak tampak. Buku adalah ruang latihan bagi imajinasi strategis. Dengan membaca, pemimpin bisa membayangkan tantangan yang belum datang, atau memahami kegagalan yang tak kasatmata. Tapi jika yang dibaca hanya ringkasan dan executive summary, maka wajar jika keputusan yang diambil juga dangkal—secepat buka tutup aplikasi.


Dalam “Jejak Langkah”, Pramoedya juga menulis:

"Karena membaca dan menulis aku menjadi ada."

Dan pemimpin pun seharusnya ‘menjadi ada’—bukan sekadar terlihat. Hadir secara penuh, berpikir secara utuh, dan tidak hanya memimpin dengan suara, tapi juga dengan wawasan.


Maka pertanyaannya: bagaimana mungkin seseorang dapat memimpin perubahan jika ia bahkan enggan membaca tentang dunia yang ingin ia ubah?


Pemimpin yang tidak membaca bukan hanya risiko dalam dunia politik—ia juga bahaya dalam organisasi. Ia membuat kebijakan berdasarkan asumsi, membangun budaya berdasarkan impresi, dan mengambil keputusan berdasarkan intuisi yang dibentuk oleh pengalaman terbatas. Ia memimpin seperti orang yang mencoba merakit mesin hanya dengan menonton tutorial singkat, tanpa pernah membuka buku manual.


Jika buku adalah jendela dunia, maka pemimpin yang tidak membaca sedang memimpin dari ruang gelap. Ia mungkin terlihat aktif, tapi sesungguhnya bergerak tanpa arah. Dan yang paling menyedihkan, banyak dari mereka bahkan merasa itu sudah cukup—karena tidak ada yang mengingatkan, apalagi menantang.


Maka mari kita dorong pemimpin kita—baik di pemerintahan, organisasi, kampus, tempat kerja, atau bahkan di komunitas kecil—untuk membaca. Tidak harus semua orang jadi filsuf, tapi setidaknya jangan sampai jadi pemimpin yang hanya bisa mengulang-ulang jargon seperti robot yang baterainya hampir habis.


Karena kalau kita terus membiarkan orang yang tidak membaca mengambil keputusan untuk hidup kita, jangan salahkan siapa-siapa kalau nanti kita tersesat—dan buku petunjuknya sudah lama tidak dibuka.

Komentar

populer minggu ini

Transparansi dan Keadilan pada Program KIP Kuliah

Elitisme Informasi: Ancaman Media Berbayar bagi Demokrasi

Diamnya Mahasiswa: Apatisme atau Ketakutan di Tengah Kontroversi UU TNI?